Pages

Festival Seni Budaya; Dimeriahkan Rentak Selatan dari BENGKULU


Yogyakarta sebagai salah satu propinsi di Indonesia yang mempunyai banyak pilihan tempat belajar, masih menjadi magnet bagi masyarakat luar propinsi bahkan luar negeri untuk datang ke kota ini. Banyaknya pilihan tempat belajar dari berbagai jenjang pendidikan yang disediakan, memungkinkan Yogyakarta ditingali dari berbagai masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia, tentu saja dengan segala seni, budaya dan adat masing-masing. Dengan adanya keragaman perbedaan budaya inilah, kegiatan Festival Seni Budaya (FSB) “ THE 7TH DINAMIT” ini dilakukan. Kegiatan ini bertujuan untuk menyalurkan minat dan bakat generasi muda kearah yang lebih positif dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia Indonesia serta dapat memperkenalkan seni budaya daerah masing-masing.

Demikian yang disampaikan Ichsan Yusran sebagai ketua panitia FSB. Bertempat di auditorium Universitas Pembangunan Nasional (UPN) ‘Veteran’ Yogyakarta, acara rutin yang diadakan anak-anak fakultas pertambangan UPN ‘Veteran’ ini, diikuti oleh 20 peserta perwakilan termasuk perwakilan propinsi Bengkulu lewat Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Propinsi Bengkulu –Yogyakarta (6/3/11). Dalam mengikuti FSB ini, Bengkulu membawakan sebuah tarian yaitu Tari Rentak Selatan. Menurut Melki AS, sebagai penanggungjawab, tarian ini adalah tari kombinasi yang di kembangkan baru dari percampuran tari tradisional Bengkulu, tari andun dan tari persembahan. ‘Roh’ nya tari ini menurut beliau tetap terjaga. Kalau biasanya tari tersebut di laksanakan dalam pesta perkawinan dan penyambutan tamu agung saja, sekarang dengan adanya kombinasi baru ini, bisa di pakai ke dalam pergaulan anak muda sebagai ekspresi kegembiraan. Jadi seni menurutnya haruslah mengakomodir dan selalu membaca zamannya. Dikatakannya lagi bahwa pelestarian terhadap aset seni dan budaya seperti tarian tradisional tetap harus di jaga. Karena itulah sesungguhnya kekayaan bangsa ini yang tidak ternilai harganya.

Seperti menjaga ke khas-an melayu, sebelum Rentak Selatan di mulai, auditorium UPN ‘Veteran” di guyur dengan sederet pantun. Tepuk riuh penoton semakin marak setiap bait per bait pantun tersebut di bacakan. Kemudian setelah itu, barulah di tampilkannya Tarian Rentak Selatan. Memang ada sedikit kendala dalam sound system yang di sediakan, tetapi tidak menyurutkan langkah untuk selalu menampilkan performa yang terbaik. Dan tepuk tangan penonton tetap membahana tatkala Tari Rentak Selatan usai di pentas kan.

“Kami memang sudah lama mempersiapkan diri sebelum mengikuti FSB ini. Kami dan adik-adik kami ini selalu berlatih giat setiap hari nya. Modernisasi memang menantang di depan mata, tetapi bagi kami, wajib hukumnya untuk terus melestarikan seni, adat dan budaya daerah. Melalui FSB ini, setidaknya kami mencoba menunjukan kepada publik bahwa Bengkulu masih ada, Bengkulu masih kuat menjaga seni budaya nya. Dan juga dengan mengikuti setiap ajang festival atau gelar seni budaya ini, kami mau menunjukkan eksistensi kami sebagai penerus dan mempromosikan Bengkulu itu sendiri. Memang kendala fasilitas dan finansial menjadi berat bagi kami untuk bisa memperkenalkan daerah, tapi tetap kami berusaha agar daerah kami bisa di lihat dan di dengar orang. Dalam FSB kali inipun, semua kostum dan perlengkapannya harus kami sewa dengan mengajak setiap keluarga besar disini untuk menyumbang secara swadaya dan sukarela seikhlasnya. Dan alhamdulillah, tercapai juga walaupun tidak jadi juara (berdasarkan polling, tervaforit ke-3). “ Melki AS menambahkan dengan antusias.

Ditambahkannya pula bahwa dengan adanya kegiatan ini, adalah merupakan jembatan komunikasi dengan sesama, baik antar persatuan daerah se-Indonesia di Yogyakarta maupun daerah asal. “ Makanya saya mengharap sekali semua generasi muda kami (Bengkulu) harus banyak-banyak bekerja mempromosikan daerah. Patokannya, kami tidak ingin menunggu pemerintah daerah yang selalu lambat dan terkesan tidak ada geliat untuk mengenalkan aset seni budaya dalam rangka memajukan daerah, tapi kami langsung saja memulainya. Kalau di pikir-pikir juga, ini merupakan refreshing otak karena hampir setiap hari kami mendengar kebohongan publik yang dilakukan pemerintahan daerah. Seperti belum lama ini, bahwa ada bantuan bagi mahasiswa Bengkulu di Yogyakarta terkait bencana merapi. Padahal hal itu sudah di muat di koran lokal, tetapi lagi-lagi hasilnya nihil. Mungkin saja bantuan itu ada, tapi keburu di tangkap ‘tikus kepala hitam’ yang selalu haus dan rakus. Itu beneran lho, info itu kami dapatkan dari banyak kawan-kawan disini. Artinya apa, artinya adanya pembohongan publik serta penipuan secara besar-besaran yang dilakukan mereka (pemerintahan daerah-red). Makanya dengan adanya kegiatan postif seperti ini, kami berharap otak pun bisa positif juga. Tidak selalu memikirkan hal-hal buruk terus walalupun itu nyata terjadi. Kami berharap juga, dengan adanya hal positif seperti ini, pemerintahan daerah juga bisa mensupport lebih lagi. Tidak cukup hanya dengan menyemangati thok, tapi berikanlah fasilitas atau apapun semacamnya agar promo daerah ini semakin berlanjut. Jangan hanya sibuk mengurus perut saja, tapi uruslah rakyat dan majukan daerah. Salah satunya sudah enak, yaitu sudah ada Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Propinsi Bengkulu Yogyakarta ini yang bisa di manfaatkan sebagai miniaturnya daerah untuk pengembangan daerah lewat promosi segala hal “ ungkap Melki AS.
Continue Reading...

BUDAYA SEBAGAI BASIS DEMOKRASI INDONESIA

Rangkuman Diskusi Kebangsaan; Refleksi Akhir Tahun

Secara Idiologis;

1. Filosofi dasar Indonesia merdeka termasuk sistem demokrasi yang dibangun adalah berdasarkan sila ke empat (ke- IV) Pancasila yaitu Kerakyatan Yang Di Pimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan / Perwakilan.

2. Esensi sistem demokrasi yang harus di anut di Indonesia yaitu berdasarkan nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia sendiri yang tercantum dalam Pancasila dan UUD 1945.

3. Model demokrasi berdasarkan transaksi dan penghitungan suara atau voting merupakan bentuk nyata dari sistem demokrasi liberal dan ini harus kita tolak.

4. Demokrasi liberal bersifat individualistik, materialistik, pragmatisme dan bercirikan transaksional disertai paham internasionalisme sebagai acuan dalam pengelolaan penyelenggara negara yang mengakibatkan merugikan negara dan rakyat Indonesia.

5. Demokrasi liberal yang dibangun rezim reformis telah menjadi monster yang sangat mengerikan karena bangsa ini akhirnya kehilangan jati dirinya dan tercerabut dari akar budayanya sendiri.

6. Demokrasi liberal tidak memiliki identitas kebangsaan karena paham yang di kembangkannya melalui Globalisme dan Internasionalisme yang pada hakekatnya adalah penjelmaan politik penjajahan gaya baru imperialisme dan kapitalisme modern (lanjut).

7. Demokrasi transaksional adalah bagian dari demokrasi liberal yang lebih mementingkan pihak asing dan tidak pro rakyat sehingga kepentingan nasional di korbankan untuk memenuhi kebutuhan dan pesanan pihak asing, sementara kepentingan rakyat telah dikorbankan hanya demi mengejar demokrasi semu dan pencitraan yang dibangun dengan kemunafikan dan kebohongan.

8. Demokrasi kepartaian (dengan sistem perolehan 50 + 1) membawa bangsa ini terseret jauh kedalam sistem demokrasi liberal.

9. Demokrasi liberal selanjutnya mendidik masyarakat serta pemimpinnya menuju watak hedonis materialistis.

10. Kita harus mengikuti dan mentaati kembali Pancasila dan UUD 1945 (yg asli) karena itu merupakan sari-sari kebudayaan tanah air (local wisdom) yang bertolak dari akar budaya bangsa kita sendiri.


Secara Politis;

1. Rezim reformasi sebagai kepanjangan tangan kaum neo liberalisme internasional sudah berhasil menghancurkan idiologi negara Pancasila dan sistem ketatanegaraan, mengontrol dan mengendalikan sistem fiskal dan moneter serta mengontrol sistem pertahanan dan keamanan negara.

2. Mengingat bahwa nilai-nilai luhur budaya dan kearifan kebangsaan sudah mulai di hancurkan oleh kekuasaan subversi global melalui tangan-tangan kekuasaan rezim neoliberalisme orde reformasi sekarang ini, maka mari Selamatkan Indonesia sekarang juga.

3. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai simbol pusat kebudayaan Jawa dan kebudayaan Nusantara harus tetap di jaga dan di lestarikan.

4. Keistimewaan DIY sesungguhnya merupakan isi dari salah satu inti keanekaragaman budaya bangsa dalam untaian Bhineka Tunggal Ika untuk menumbuhkembangkan spirit etno-nasionalisme, pluralisme dan mutikulturalisme.

5. Isu demokratisasi melalui RUUK Yogyakarta dan sebagainya adalah pintu masuk untuk menghancurkan kearifan budaya lokal dan pranata sosial bangsa Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai luhur budaya bangsa sendiri yang sudah terbangun lama sejak Indonesia Merdeka.

6. Jangan gadaikan entitas dan identitas bangsa Indonesia dengan cara demokrasi transaksional dengan model pemilihan langsung karena hal tersebut tidak selaras dengan peradaban sosial masyarakat yang menganut paham Musyawarah Mufakat (bukan Liberal)


Secara Kebudayaan;

1. Budaya adalah hasil buah budi menusia yang luhur dan bermanfaat.

2. Budaya manusia akan berperan dalam membentuk karakter seorang manusia, selanjutnya membentuk kepribadian budaya bangsanya.

3. Konsep bernegara dan bermasyarakat dalam suatu komunitas budaya haruslah berpangkal pada akar budaya.

4. Dasar falsafah Pancasila adalah salah satu hasil budaya yang patut disyukuri, dijaga dan di taati karena keseluruhan isi dan intinya merupakan penggalian dari akar budaya yang sudah bercokol lama di sanubari masyarakat sejak beribu tahun yang lalu.

5. Pancasila merupakan hasil olah konsentrisitas budaya manusia Indonesia yang digali dari akar budaya sendiri sehingga mampu menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

6. Erosi terhadap jiwa Pancasila akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

7. Pertahankan budaya asli Indonesia sebagai karakter dan jatidiri bangsa Indonesia sendiri dalam peranan pembudayaan Pancasila.


Melki Hartomi AS
Persatuan Pemuda Tamansiswa
Penanggungjawab Kegiatan
Continue Reading...

SRI SULTAN HAMENGKU BUWONO IX : ”PELOPOR DEMOKRASI BUDAYA”


Teks Pidato Penobatan :

”Dat de taak die op mij rust, moeilijk en zwaar is, daar ben ik mij tenvolle van bewust, vooral waar het hier gaat de Westerse en de Oosterse geest tot elkaar te brengen, deze beide tot een harmonische samenwerking te doen overgaan zonder de laatste haar karakter doen verliezen. Al heb ik een uitgesproken Westerse opvoeding gehad, toch ben en blijf ik in de allereerste plaats Javaan. Zo zal de adat, zo deze niet remmend werkt op de ontwikkeling, een voorname plaats blijven innemen in de traditierijke Keraton. Moge ik eindigen met de belofte dat ik de belangen van Land en Volk zal behartigen naar mijn beste weten en kunnen”
”Sepenuhnya saya menyadari bahwa tugas yang ada dipundak saya adalah sulit dan berat, terlebih-lebih karena ini menyangkut mempertemukan jiwa Barat dan Timur agar dapat bekerja sama dalam suasana harmonis, tanpa yang Timur harus kehilangan kepribadiannya. Walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap adalah orang Jawa. Maka selama tak menghambat kemajuan, adat akan tetap menduduki tempat yang utama dalam Keraton yang kaya akan tradisi ini. Izinkanlah saya mengakhiri pidato saya ini dengan berjanji semoga saya dapat bekerja untuk memenuhi kepentingan Nusa dan Bangsa, sebatas pengetahuan dan kemampuan yang ada pada saya” (Pidato Sri Sultan Hamengku Buwono IX, pada saat dinobatkan sebagai Raja Yogyakarta, tanggal 18 Maret 1940)
Teks pidato diatas sengaja disajikan secara utuh agar dipahami maknanya dan dapat direfleksikan kembali tentang bagaimana suasana kebatinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada saat itu. Sebagaimana diungkapkan dalam pidato yang singkat, padat namun cukup visioneer telah mencakup dan menggambarkan pandangan Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengenai posisi dirinya, kraton, pemerintahan kolonial, adat – istiadat, tradisi barat serta nasib masa depan nusa, bangsa dan negaranya.
Sebelum Indonesia Merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, Sri Sultan Hemangku Buwono IX sudah merumuskan kebijakan yang menyangkut hubungan antar dua peradaban, yaitu mempertemukan jiwa Barat dan Timur agar dapat bekerja sama dalam suasana harmonis, tanpa yang timur harus kehilangan kepribadiannya. Sebagian besar masyarakat Yogyakarta generasi 45 sampai dengan generasi 66 sangat memahami sejarah perjalanan dan karir politik BRM Dorojatun (nama kecil Sri Sultan Hamengku Buwono IX, sebelum dinobatkan menjadi raja), dimana masa kecilnya hingga studi tingkat doktoralnya di fakultas Indologi, Rijks Universiteit, Leiden, Belanda.
Akan tetapi aneksasi kolonial dan pendidikannya di negeri Belanda tidak mempengaruhi jiwa dan kepribadiannya, sehingga pernyataan : ”Walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap adalah orang Jawa” ditegaskan kembali dalam pidato penobatan sebagai raja yang cukup sakral dan dihadapan para pejabat pemerintahan kerajaan Belanda yang dinilai sangat fenomenal.
Masa sulit yang menentukan Kemerdekaan RI :

Pada tahun 1940 sampai dengan tahun 1945 adalah masa – masa yang sangat sulit bagi dirinya, dalam usia yang relatif masih sangat muda sudah harus berhadapan dengan seorang Gubernur yang memiliki keahlian sebagai antropologi Jawa, bernama DR. Lucien Adam dan mewakili/atas nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Peristiwa penobatan sebagai raja bukanlah sebagai kemenangan bagi Sultan, namun justru sebagai momentum strategis Belanda untuk memperpanjang kontrak politiknya dalam memperlemah posisi pemerintah kerajaan Ngayogyakarto Hadiningrat.
Bargaining position yang tidak seimbang ini sangat menggelisahkan Sultan Yogyakarta yang baru saja dinobatkan, karena perjanjian (overeenkomst) antara pemerintah Hindia Belanda dengan Kesultanan Yogyakarta yang harus ditanda tangani pada tanggal 18 Maret 1940 sangat merugikan pihak Kasultanan. Dalam buku Tahta untuk Rakyat (Atmakusumah, dkk), cukup lama Sri Sultan mempertimbangkan hal yang cukup dilematis ini, namun karena mendengar bisikan hati sanubari yang paling dalam maka dibubuhkanlah tanda-tangan sebagai tanda persetujuan kontrak politik dengan keyakinan bahwa tidak akan lama lagi Belanda meninggalkan Yogyakarta.
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945 telah mengubah sejarah dan membuka lembaran baru bagi Indonesia, setelah mendengar Ki Hajar Dewantoro berkeliling naik sepeda mengumumkan dengan suka-cita Kemerdekaan RI Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII pada tanggal 18 Agustus 1945 mengirimkan surat kawat kepada Pjs. Presiden Soekarno sebagai ungkapan rasa syukur dan ucapan selamat atas upaya perjuangan kemerdekaan, kemudian mendapat balasan dan disusul kemudian dengan mengirimkan Amanat pada tanggal 5 September 1945 yang bunyinya :
Kami Hamengku Buwono IX, Sultan Negeri Ngayogyakarto Hadiningrat menyatakan :
Pertama, bahwa Negeri Ngayogyakarto Hadiningrat yang bersifat kerajaan adalah daerah istimewa dari Negara Republik Indonesia. Kedua, bahwa kami sebagai Kepala Daerah memegang segala kekuasaan dalam Negeri Ngayogyakarto Hadiningrat, dan oleh karena itu berhubung dengan keadaan pada dewasa ini segala urusan pemerintahan dalam Negeri Ngayogyakarto Hadiningrat mulai saat ini ada ditangan kami dan kekuasaan – kekuasaan lainnya kami pegang seluruhnya. Ketiga, bahwa perhubungan antara Negeri Ngayogyakarto Hadiningrat dengan Pemerintah Pusat Negara Republik Indonesia, bersifat langsung dan Kami bertanggung-jawab atas Negeri Kami langsung kepada Presiden Republik Indonesia.
Pada tanggal 30 Oktober 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII secara bersama – sama mengirimkan amanat serupa dengan menekankan adanya pembentukan Badan Pekerja yaitu Badan Legislatif (Badan Pembikin Undang-undang) untuk mengatur jalannya pemerintahan dimasa-masa yang akan datang. Secara Bottom-Up pada tanggal 6 Desember 1945, Negeri Kasultanan Yogyakarta dan Praja Pakualaman Daerah Istimewa Negara Republik Indonesia mengeluarkan Maklumat No. 7 tentang Pembentukan Dewan Perwakilan Rakyat Kelurahan yang ditanda tangani oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Paduka Paku Alam VIII sebagai Wakil Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sdr. Moh Saleh sebagai Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta. Setelah empat bulan kemudian menyusun Maklumat No. 14 yang mengatur tentang Dewan Perwakilan Rakyat Kelurahan dan Majlis Permusyawaratan Desa.

Pelopor Demokrasi di Indonesia :

Refleksi sejarah diatas menggambarkan bahwa seorang Sultan yang dilahirkan dan dibesarkan ditengah – tengah adat tradisi yang sangat ketat (monarkhi), masih sempat memikirkan proses demokratisasi dari level desa/kelurahan, kota/kabupaten, propinsi hingga pemerintah pusat, sehingga wajar apabila seorang pengamat politik Amerika bernama Harry J Benda menyatakan bahwa sejak jaman awal kerajaan Nusantara tidak pernah ada demokrasi, kecuali sejak tahun 1949 dan setelah dicetuskan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Dalam peran sejarah kemudian, Sri Sultan turut serta membidani lahirnya universitas Gajahmada dari pagelaran Kraton Yogyakarta, lahirnya TNI dari Alun – alun utara, memfasilitasi Seminar Pancasila I di Sasana Hinggil Dwi Abad, mendirikan Pramuka, Membuat selokan Mataram utk menyelamatkan rakyat dari romusha, membiayai pemindahan ibukota RI dari Jakarta ke Yogyakarta, menyelamatkan NKRI dari badai federalisme dan memfasilitasi Gedung Agung Yogyakarta untuk ibukota serta membagikan gulden miliknya untuk menggaji para pejabat negara saat itu.

DIY harus Selamatkan Demokrasi Pancasila :

Tidak terlalu berlebihan rasanya, apabila Yogyakarta menjadi pelopor demokrasi budaya (demokrasi deliberative) bagi Indondesia, saat ini proses pencerahan demokrasi di Indonesia setelah reformasi dan amandemen Undang Undang Dasar 1945 masih bergelut mencari format yang paling tepat dengan suasana ke-Indonesiaan yang berakar dari sejarah budaya Nusantara, maka memaknai ”keistimewaan” bagi Daerah Istimewa Yogyakarta sesungguhnya merupakan isi dari salah satu inti keaneka-ragaman budaya bangsa dalam untaian bhineka tunggal ika untuk menumbuh-kembangkan spirit etno-nasionalisme, pluralisme & multikulturalisme.
Paling tidak Yogyakarta telah membuktikan diri sebagai kawasan peradaban yang paling akomodatif dalam kancah perjuangan menuju masyarakat madani (civil-society), karena memang makna Ngayogyakarto Hadiningrat itu sendiri mengandung harapan, ajaran dan ajakan untuk menggapai kehidupan yang lebih baik bagi masyarakatnya, baik didunia maupun diakherat (baladil amin rahmatan lil alamin – baldatun thoyyibatun warobun ghofur).
Sebagai penutup, Yogyakarta tercinta yang telah memiliki entitas sekaligus identitas ini jangan digadaikan atas nama berlangsungnya demokrasi transaksional karena pelaksanaan pilihan kepala daerah langsung (prosedur demokrasi) yang cenderung individualistik-kapitalistik-liberalistik tidak selaras dengan peradaban sosial masyarakat kita yang menganut faham musyawarah – mufakat (QS: 26, As-Syuroo) untuk memilih pimpinan yang amanah, jujur, adil & bertanggung-jawab (substansi demokrasi).
Yogyakarta belum melaksanakan Pilsung Gubernur DIY harus dipahami sebagai taat azas terhadap amanat sila ke IV, Pancasila (demokrasi Pancasila) yakni terus bermusyawarah untuk mencapai mufakat dalam merumuskan Rancangan Undang – undang Daerah Istimewa Yogyakarta yang sejalan dengan konstitusi negara tanpa mengabaikan amanat sejarah & para pendiri bangsa, mengingat Trilogi Demokrasi Indonesia adalah negara kekeluargaan, masyarakat gotong – royong & mengutamakan asas musyawarah mufakat untuk mencapai keadilan sosial.

Yogyakarta, 30 Desember 2010

H.HERU WAHYUKISMOYO (Penjaga Gawang KeIstimewaan Yogyakarta)
Penulis Buku Demokratisasi VS Keistimewaan DIY (jadi tesis S-2 UGM, Politik Lokal) &
Merajut Kembali Pemikiran Sri Sultan HB IX (bahan disertasi S-3 UNY, Ilmu Pendidikan)
Jl Namburan Lor 1, Kraton, Yogyakarta,  CP: 0274-372722, 0274-7474222, 081328372222
Continue Reading...

PELACUR............!!!!!!!

Melki AS



Rinai gerimis hujan malam itu sudah mulai tampak di wajah langit yang paradok. Sesekali menampakkan raut kecerahan, tapi sesekali juga merintikkan hujan walau tidak hebat. Tapi suasana malam itu agak sedikit berbeda. Keberbedaan itu memang sudah lazim bagi mereka, tapi perbedaan kali ini lebih mencolok. Disini ada Pesta, Harapan, Perjamuan Minum dan Pelacur-Pelacur itu..........!!!!!!

..... ..... ..... ..............

Jam menunjukkan kurang lebih pukul sebelas malam ketika kami (aku dan tiga orang temanku) tiba disana. Dari kejauhan semua orang sudah tahu bahwa tempat itu selalu menyedot perhatian para musang malam yang selalu menginginkan kenikmatan duniawi. Dari jauh juga aku melihat berduyun-duyun orang keluar masuk di gang yang sempit itu.
Setelah selesai parkir motor di stasiun bersejarah itu, aku pun juga turut masuk menyusuri perkampungan di tempat gang sempit tersebut.
Kalau banyak orang datang kesana dengan membawa niat yang beragam, begitupun juga kami. Disana banyak pikiran yang berkubang dalam sesaat. Beberapa menit saja mengitari gang-gang disana, banyak sekali panggilan mesra nan sayu. Panggilan tersebut terasa akrab di telinga meskipun kita belum kenal satu sama lain. Maklum, itulah keadaan Lokasisasi Pasar Kembang (Sarkem) yang ‘melegenda’ itu. Sesekali mengusir lelah, ku sulut sebatang rokok dan cessss....asap putih menyembur dari dalam mulut. Dan dengan tak hendak menunda perjamuan, singgah pulalah dan duduk santai aku di pelataran-pelataran rumah transaksi sekaligus tempat berlangsunya eksekusi pabila transaksi tersebut berhasil. Tak heran kalau kiri kanan, bolak-balik dan mondar-mandir perempuan-perempuan datang walau hanya untuk sekedar bertanya atau menjaja kan tubuhnya kepada kami semua.
Tapi satu hal pasti adalah bahwa ada yang menarik perhatian kami disana. Kami di undang untuk turut berpartisipasi dalam memeriahkan sebuah acara. Kalau biasanya aku sering di undang kawan-kawan untuk berdiskusi, sharing atau memateri dalam berbagai acara, maka di sini bukan saat nya untuk mengatakan hal-hal yang bersifat intelektual tersebut. Disini kami memang terkadang suka share, tapi lebih kepada curhat tentang pengalaman yang pernah dan sudah dialami secara awam saja. Disini juga kami tidak membicarakan agama. Itu bukan berarti kami tidak beragama. Hampir semua yang ada disini beragama. Cuma untuk membicarakan itu, rasanya tidak tepat kalau di lakukan di tempat tersebut. Karena disni tempat berkumpulnya semua golongan, bahkan mungkin yang mengaku wakil Tuhan sekalipun; datang kesini untuk mereguk kenikmatan sesaat. Selaiknya acara, di sini pun, kami berkumpul dengan banyak teman lainnya. Acara pesta kali ini bukan acara yang mungkin dianggap orang seperti terbang bebas. Tapi acara kali ini mengandung asa yang di inginkan setiap manusia di seluruh dunia ini; Ulang Tahun seorang teman perempuan yang dianggap hina dina dimata masyarakat.
Suara gaduh musik terasa sangat garang di telinga dan teriakkan demi teriakkan turut memeriahkan rumah tempat pesta tersebut. Dari luar rumah, ada beberapa perempuan-perempuan yang se-profesi dengan teman yang sedang berulang tahun tersebut, sedang asyik duduk ngobrol sambil meracik minuman. Dari dalam rumah juga ada beberapa orang pula baik laki ataupun perempuan yang sedang asyik berjoget koplo. Ada kegembiraan disana yang sedang di luapkan. Keadaan yang remang turut memanaskan suasana saat kami menjejalkan kaki di dalam. Dan disana, kami di sambut dengan hangat seperti tak ada perbedaan di antara kita. Dan memang tidak ada beda di antara kami semua. Hanya nasib dan keadaan yang membuat sekat dalam pergolakan dan perjuangan dalam mempertahankan hidup.
Tak heran bila di tempat itu banyak suguhan minuman. Apalagi tidak sulit untuk mencarinya. Soalnya hampir di setiap rumah mempunyai warung yang melayani segala macam kebutuhan malam seperti minuman, kontrasepsi, rokok dan lain sebagainya. Seorang teman masuk kedalam. Aku dan dua orang teman lainnya memilih untuk duduk di luar saja sambil ngobrol dan bercengkeramah dengan perempuan lainnya. Belum berselang lama seloki minuman di suguhkan pada kami masing-masing. Dari aroma dan baunya jelas ini adalah Bir, Vodka dan campuran lainnya yang bisa menegangkan urat syaraf. Lalu leeppp...seloki minuman langsung mereguk dalam kerongkongan. Dan kembali aku menyumut rokok untuk sedikit menetralisir rasa yang sedang berontak tersebut.

......... ....... .................

Gerimis masih saja turun sesekali saat malam semakin larut. Dari dalam rumah, musik tiada hentinya menggebrak dan merangsang seisi dan semua yang hadir untuk bergembira. Tua muda, laki perempuan, semua tenggelam dalam kebisingan tersebut. Ada yang setengah teler, ada juga yang masih sehat dan sebagainya. Sampai akhirnya suara mengalun pelan dan lama kelamaan berhenti. Ini moment panitia dan yang punya acara untuk menegaskan maksud nya.
Sementara kami diluar terus dan terus saja minum bersama dengan perempuan-perempuan tersebut. Entah sudah berapa ceret yang sudah kami habiskan. Berbicara dengan perempuan-perempuan itu, saya menyadari bahwa apa yang selama ini di klaim masyarakat, tidaklah selalu benar. Soalnya dari cara dan perilaku; mereka terbilang baik, ramah dan sangat sopan. Termasuk saat panitia mulai mengutarakan maksud dan tujuan di buatnya acara itu, kami semua bahkan mengerti bahwa ada hal yang seharusnya tawa dan pembicaraan di hentikan. Dari dalam rumah, panitia terus sibuk mengoceh dan meneriakkan kata-kata selamat bagi yang berulang tahun. Tampak dari sela kerumunan aku melihat teman perempuan yang berulang tahun tersebut agak sedikit mesem ngguyu. Dan setelah dinanti agak lama, tiba pula yang berulang tahun mengucapkan permohonannya. Disinilah saya melihat bahwa memang tidak ada perbedaan diantara kami semua. Kalau biasanya ada saudara kita, keluarga kita, teman kampus kita, teman daerah kita atau masyarakat luas lainnya sewaktu berkesempatan baik, semua meminta kemurahan Tuhan untuk selalu melimpahkan rezekinya, rahmatnya, kesehatan dan sebagainya. Begitu juga dengan teman kami disini. Meskipun pekerjaannya kotor dan hina, bukan berarti mereka tidak ingat dengan Tuhan yang Maha segalanya itu. Sekali lagi perbedaan hanyalah sebatas pekerjaan yang mereka jalani saja.
Setelah semua kata dan ucapan dirasa selesai, kini tiba puncak dari segala acara yaitu pemotongan kue. Entah dari mana mulainya tradisi seperti ini, tapi jelasnya ini sudah biasa di lakukan. Kue tersebut sudah diletakkan di atas meja beserta umur yang berulang tahun; 18.
Kue pun di bagi-bagi. Kami semua dapat sepotong seorang. Musik kembali menyala dengan garang dengan suguhan yang sama; Dangdut Koplo. Hanya musik itu yang akrab di telinga kami. Kami tidak memandang bahwa apakah lagu tersebut kampungan atau bukan, yang penting asyik. Kembali tua muda laki perempuan berjoget ria. Minuman kembali di gelar baik di dalam maupun di luar. Syaraf kembali tegang setelah agak beberapa lama berhenti minum tadi. Racikan-racikan perempuan kami di luar semakin menjadi-jadi. Seloki demi seloki kembali di tangan. Habis minum loki di isi ulang dan begitu terus terusan. Syaraf yang sudah tegang semakin menegang. Tiba-tiba tanpa di nyana, yang berulang tahun menghampiriku mengajak berjoget di dalam. Bukannya aku tak mau atau apa, tapi menghindari terjadi hal yang tidak mengenakkan, aku pun berpura-pura menolak dengan mengatakan tidak bisa berjoget. Tapi teman yang berulang tahun tersebut sepertinya tidak peduli. Dia terus mengajak, menarik, merangkulkan tangannya bahkan sedikit memeluk mengajak agar aku mau berjoget bersamanya. Ya sudahlah, meskipun kepala agak sakit akhirnya aku ikut juga ke dalam. Teriakan dan bunyi musik yang setengah koplo setengah dangdut membuat kepala dan kaki bergerak gerak. Mungkin agak ngawur, cuma tak ada seorang pun yang peduli. Hampir malam itu semua sudah setengah teler, termasuk yang berulang tahun. Kami semua bergoyang menyaru semuanya. Bau keringat dan lainnya tidak terasa lagi. Begitupun juga aku. Termasuk ketika ketiak seorang perempuan menyentuh mukaku, aku tak tahu lagi. Tahu-tahu sudah menempel saja karena memang perempuan itu kebetulan menggunakan baju seksi yang tidak punya atasan dan ketika berjoget asyik mengangkat-angkat kedua tanganya.
Semakin asyik berjoget, syaraf di kepala semakin tegang saja. Beberapa kali aku menabrak lemari dan sesekali juga aku mulai berani menarik dan memeluk-meluk pinggang perempuan-perempuan itu sambil berjoget. Aku masih ingat karena walaupun syaraf tegang tapi kesadaraan masih ada. Cuma susah di kontrol saja. Dan semakin lama semakin susah mengontrol diri. Dengan kesadaran yang tinggal ku putuskan untuk keluar saja, duduk di kursi.
Di luar, gerimis masih saja berjatuhan. Cuma sudah agak berkurang. Duduk di dekatku ada seorang perempuan dan di depan ada mbak Rita yang sedang asyik. Ngobrol punya ngobrol, perempuan di dekatku itu mengajakku berkenalan. Namanya Lily. Lily pun banyak bertanya sampai akhirnya kami bercakap layaknya kenal dekat. Dia bilang bahwa berasal dari kota S dan sudah 4 bulan berada disini. Aku pun juga bilang padanya bahwa berasal dari kota M. Percakapan kami semakin lama semakin asyik. Tiba-tiba mbak Rita sudah selesai meracik minuman dan mulai menyuguhkan lagi minuman itu kepada kami. Aku pun langsung mengambilnya. Ku lihat juga Lily. Dia menolak minuman tersebut dan berusaha untuk tidak mengambilnya. Tapi mbak Rita terus menyuguhkan. Dan sepertinya tidak ada kata tolak di suasana dan tempat seperti itu. Ku pegang pahanya sedikit sambil memberi kode Lily agar mau mengambil minuman tersebut. Lily masih saja bersikeras untuk tidak mau mengambilnya. Setelah ku kedipkan mata sedikit, akhirnya dia paham. Minuman itu diambilnya juga. Setelah minuman diambil, mbak Rita kembali ke tempat duduknya sambil menuang sendiri minuman untuknya. Lily mendekatkan mulutnya di telingaku dan membisikkan bahwa dia tidak mau meminumnya karena memang dia tidak biasa dan tidak pernah minum-minuman seperti itu. Merokokpun dia juga tidak. Aku pun paham dan kubisikkan juga bahwa biar aku yang minumnya. Setelah kutenggak punyaku, punya Lily ku sikat juga cepat-cepat agar jangan sampai mbak Rita melihatnya. Soalnya tidak enak juga kalau mbak Rita sampai melihat. Setelah itu ku berikan gelasnya dan ku bilang agar dia terus memegangnya sampai akhirnya mbak Rita sendiri yang menannyakan loki tersebut.
Tak berapa lama memang mbak Rita menanyakan loki yang di berikannya tadi. Lily memberikannya dan mengatakan sudah meminumnya. Mbak Rita kurang yakin dan beliau menengok kearahku. Aku pun juga bilang iya. Mbak Rita percaya. Lalu kembali menuangkan minuman itu berulang dan berulang kali. Setelah minuman di luar tersebut habis, baru mbak Rita masuk ke dalam ikut berjoget ria kembali. Tinggal aku dan Lily di luar. Kami bercakap terus menerus. Tak terasa gerimis sudah mulai mengganas lagi. Kami pindah tempat duduk yang agak mepet ke dinding. Karena banyak bekas botol, loki dan tumpahan minuman yang di tuangkan, memaksa kami untuk duduk berdempetan. Pembicaraan terus berlanjut sampai gerimis mulai hendak berubah menjadi hujan. Lily mengajak untuk masuk kedalam. Bukan ke dalam ruangan tempat hingar bingar musik tersebut melainkan ke dalam kamarnya. Soalnya kalau masuk ke tempat musik tersebut, sudah pasti akan di suguhin minuman kembali dan tidak bisa berbohong lagi seperti tadi. Karena memang di dalam banyak orang. Aku kaget waktu dia ngajak masuk ke kamarnya. Bukannya apa, tetapi kepala sudah semakin tidak sehat. Kontrol diri semakin berkurang. Kalau tadi sewaktu berjoget saja aku sudah hampir kehilangan kontrol, apalagi kalau di ajak ngobrol dikamar. Tapi kalau tidak ngobrol di ruang dalam (ruang musik atau kamar), maka seluruh kaki bisa kebasahan. Padahal kepala semakin terasa nyut-nyutan terus. Aku mencoba untuk mengontrol diri dengan berpura-pura ingin buang air kecil. Sewaktu badan ku angkat terasa langkah mulai goyang kiri kanan. Jalan saja sudah menyerempet-nyerempet dinding. Aku berpikir bagaimana kalau di dalam kamar. Mungkin saja terlintas hal tersebut secara tidak sadar. Karena duduk berdempetan di luar saja, kami sudah saling rangkul. Dan dia tidak marah karena memang harus berdempet dan berangkulan agar sedikit terhindar dari kebasahan.
Setelah selesai dari kamar mandi, aku keluar lagi. Langkah masih saja bergetar kiri kanan. Aku coba tegar dengan berjalan agak pelan. Di luar Lily masih terlihat duduk sambil merangkul kakinya. Aku duduk kembali di dekatnya. Cuma agak canggung untuk merangkulnya. Sampai dia sendiri yang merangkulku. Lily tetap ngotot ngajak untuk masuk dan ngobrol ke dalam kamar. Soalnya gerimis semakin deras saja. Aku bilang padanya ntar malah aku di cariin temanku. Lily secara cuek bilang bahwa mereka pasti gampang mencariku. Akhirnya naiklah kami berdua ke atas ke kamarnya. Kamarnya tidak terlalu luas dan tidak banyak perlengkapan seperti kamarku. Biasanya kalau di kamarku ada rak beserta buku-buku ku, komputer, meja serta kursinya, sementara di tempat Lily hanya ada satu meja kecil, sepotong kasur dan dua bantal serta selimut. Hanya itu saja. Kami duduk kasur tersebut sambil selonjor-selonjoran. Karena selama di luar tadi, kaki tidak bisa di selonjorkan.

...... ....... ..... .....

Suara musik di bawah masih saja kedengaran sampai di atas. Dentuman koplo tersebut sesekali diikuti Lily. Rupanya ada juga lagu yang dihapalnya meskipun hanya sepotong-sepotong. Di sela sambil nyanyi-nyanyi kami terus bercakap. Kadang tentang diri sendiri, kadang juga tentang orang lain. Seingatku aku juga mennyakan tentang beberapa teman Lily yang tinggal di kamar-kamar di sana. Lily pun dengan lugas tanpa beban menjawab semua tentang mereka. Jadinya aku juga banyak tahu tentang mereka yang ada di sana. Lily juga bilang bahwa kadang seminggu dua minggu sekali dia pulang ke kota S tersebut. Kadang juga aku bertanya agak nyeleneh padanya. Tapi Lily selalu menjawabnya dengan pasti. Pernah juga aku tanya kenapa dia masuk ke area seperti ini dan baru kulihat jawabannya agak sedikit muram. Aku sedikit paham sampai kemudian dia nya sendiri menjelaskan tentang hal ikhwal terjun ke dunia seperti ini. Selama bercakap dengan Lily, aku merasakan kenikmatan tersendiri. Rupanya dia sangat asyik diajak ngobrol tentang apapun dan siapapun.
Aku merebahkan diri di kasur tersebut karena kepala semakin terasa sakit saja. Tiba-tiba Lily merebahkan dirinya juga. Jadilah kami seperti sedang asyik tidur berdua. Aku sudah mewanti-wanti agar jangan sampai terjadi hal di luar kendali. Tapi kepala rasanya berat sekali untuk diangkat. Percakapan pun sudah mulai berkurang karena habis sesuatu yang mau di bicarakan. Setidaknya tentang malam itu. Sambil berbaring aku menengadah keatas. Terasa kepala berputar-putar dan berasa perut ingin muntah. Tapi kutahan agar jangan sampai termuntah. Tiba-tiba, secara spontanitas Lily memelukku. Aku tak bisa menolak karena untuk bergerak saja susah. Dekapan Lily semakin lama semakin erat dan kurasakan dengusan nafas dari hidungnya semakin kencang terdengar. Ku buka mata, kulihat Lily terpejam. Tapi kepalanya semakin mendekat dan tangannya tak lepas dari mendekapku. Aku pun juga memejamkan mata, tapi tidak tertidur. Karena perasaan untuk tidur tidak ada sama sekali. Hanya kepala berat dan susah di angkat. Aku juga tidak mau tertidur karena pasti teman-temanku tadi pasti mengajak pulang. Seandainya aku tertidur, maka sudah bisa di tebak pasti aku akan di tinggalkan.
Ku buka lagi mata dan kulihat Lily, ternyata sesekali dia juga membuka mata menatapku. Aku berbalik badan dan menghadapkan mukaku ke mukanya sambil membisikkan sesuatu. Lily rupanya paham. Ku cium keningnya sambil kubilang apakah dia tidak marah padahal baru saja kenal. Dia mengangguk pelan sembari tangannya berusaha meraih tanganku dan mendekapkan ke tubuhnya. Habis itu entah apa yang terjadi. Akal pikiran seolah tergenang oleh minuman yang di minum tadi. Sampai terdengar suara ketokan pintu sembari memanggil-manggil namaku. Kubuka pintu dan kulihat tiga orang teman tadi sudah mengajak pulang. Pesta sudah usai dan semua sudah di bersihkan. Ku lihat Lily tidur pulas. Mau membangunkannya terasa tidak enak. Lantas kututupi dia dengan selimut agar tidak kedinginan, lalu kututup kamarnya dan aku pun melangkah pulang meski gontai. Mengingat Lily dan pulas mukanya sewaktu tidur, aku merenungi sebait liriknya lagu Titiek Puspa; “ Kadang dia menangis di dalam senyuman. Oh apa yang terjadi terjadilah. Yang dia tahu Tuhan penyayang umat-Nya. Oh apa yang terjadi terjadilah. Yang dia mau hanyalah menyambung nyawa “. Oh Tuhan akankah................


(Yogyakarta, 05061210)
Continue Reading...

Merefleksi Peristiwa Pasca 1965

Hari ini, kembali kita di hadapkan pada peristiwa bersejarah dan berdarah. Dua peristiwa besar yang terjadi pada medio 1965 yaitu tanggal 30 September dan 1 Oktober. Pada tanggal 30 September, terjadinya kudeta yang menjatuhkan Ir. Soekarno sebagai presiden pertama Republik Indonesia dan menggantikannya dengan diktator orde baru Kolonel Soeharto yang berkuasa selama 5 periode lebih (32 Tahun). Peristiwa Coup de etat ini yang dikenal dengan Gerakan 30 September/G30S, bermula dari di bunuhnya beberapa Jenderal dengan sadis dan mayatnya di buang di lubang buaya. Tersebutlah Ahmad Yani, Nasution dan lain-lain yang menjadi keganasan dari peristiwa tersebut. Dan dengan secepat angin, pemerintahan baru tersebut membalikkan sejarah dengan mengklaim bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) lah yang mendalangi pembunuhan Jenderal-Jenderal terbaik Indonesia itu. Walaupun akhirnya banyak tesis yang bermunculan pasca kejatuhan Soeharto yang menyatakan adanya konspirasi di balik kudeta Soekarno tersebut. Misalnya adanya keterlibatan Amerika lewat CIA dan lain-lain.
Seperti yang kita ketahui bahwa Soekarno menandaskan perjuangannya ke arah sosialisme. Tepatnya Sosio-Nasionalisme atau Nasionalisme Kemasyarakatan. Beliau ingin merubah bangsa ini dengan satu kesatuan yang di tunjang dengan kepribadian sebagai bangsa Indonesia yang asli, yang sejak kecil selalu terngiang-ngiang di telinganya dengan konsep kegotongroyongan dan agamais yang diwarisinya dari kakek dan orang tuanya. Sehingga baginya perlu di tumbuhkan suatu ideologi kebangsaan yang menjadi dasar bagi kesejahteraan rakyat Indonesia dengan tidak mengabaikan pluralisme yang yang ada. Bahwa bangsa Indonesia terdiri dari bermacam ragam suku, adat, ras, agama, budaya, dan bahasa yang berbeda yang semuanya perlu di sejahterakan hidupnya. Hingga pada akhirnya, munculah Pancasila sebagai ideologi tunggal dalam kehidupan bersama.
Terlepas dari apa dan siapa perumus Pancasila yang sebenarnya, tapi ideologi tersebut terbentuk dari seluruh jiwa masyarakat Indonesia yang menghendaki perlunya diatur suatu pembagian rezeki, kesejahteraan manusia dan hubunganan antara pemilik modal dan para buruh. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar sehingga perlu pemersatu ideologi sebagai pemersatu rakyatnya. Jadi pertanyaan kenapa tidak berhaluan Agama atau Sosialis atau Komunis saja? Inilah yang masih sering di pertentangkan dan menjadi pertikaian oleh dan di bangsa ini dengan 230 juta rakyatnya sampai sekarang.
Partai Komunis Indonesia (PKI) yang merupakan manifes dari gerakan sosialis tidak hanya di Indonesia tapi juga dunia, memang pernah di jejalkan. Sampai pada akhirnya PKI di tumpas dan dianggap sebagai partai terlarang yang tidak boleh melakukan kegiatan sesuatu apapun karena mendalangi pembunuhan para Jenderal. Meskipun ini belum sepenuhnya benar. Tapi justru sejarah mengajarkan bahwa ketika komunis berkuasa, maka bukan kesejahteraan dan keadilan yang didapat. Justru yang ada hanyalah Komunis sebagai mesin pemeras yang baru dan pembunuh tatanan kehidupan masyarakat yang plural. Jadi apabila dipaksakan, komunis justru akan menjadi diktator baru yang sama hal nya dengan kapitalisme yang selalu mencengkeram dan membelenggu kesejahteraan dan keadilan rakyatnya. Soviet adalah contoh nyatanya. Sama hal nya dengan Indonesia, meskipun tidak berhaluan komunis, tetapi sejarah komunis Indonesia telah memangkas seluruh rencana kedepan yang dicita-citakan. Tindakan gegabah Partai Komunis Indonesia akhirnya dijadikan alasan untuk menghabisi setiap pergerakan kiri di Indonesia. Sampai benih-benih pergerakan pun jadi tumbal dari kegegabahan PKI ini. Makanya sangat mustahil sekali bila ingin menghidupkan kembali paham komunis di Indonesia.
Tapi, meski mustahil menghidupkannya, roh Komunis tersebut masih terpelihara dengan baik. Dengan perfom baru berelimut sosialis, bahkan roh itu merasuk sampai ke ruang-ruang intelektual (kehidupan kampus), yang notabene nya mahasiswa dengan membentuk organ-organ pergerakan. Yang selalu menjadikannya ambigu adalah klaim ‘kiri yang paling mentok’. Jadi ada anggapan bahwa hanya organ inilah yang paling hebat dan progressif. Kehebatan dan progressif nya diumbar dengan mengobarkan perlawanan entah itu protes, bentrokan dan sebagainya. Sesungguhnya ini adalah bentuk pendangkalan jiwa berpikir, terutama generasi penerus bangsa. Padahal antara ‘Kiri, Sosialis dan Komunis’ itu adalah sesuatu yang berbeda. Kiri adalah bentuk perumpamaan dari perlawanan yang manifesnya bisa berbentuk berbagai paham seperti Sosialis, Komunis, Agamais ataupun Pancasilais. Jadi terasa bedanya antara Kiri dan Komunis, Kiri dan sosialis, Kiri dan Agamais ataupun Kiri dan Pancasilais. Tapi kekiri-kirian yang di serempetkan dengan gaya sosialis komunis selalu terpelihara di negeri ini. Seolah-olah itu adalah satu-satunya paham kebenaran dalam kehidupan suatu bangsa. Sama halnya dengan Kiri Agamais yang akhirnya juga berpendapat hanya dengan aturan agama satu, maka itulah kunci kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Adanya gerakan radikal yang memaksakan kehendak satu ideologi keagamaan, justru membuat Indonesia di ambang ketidakjelasan. Hal ini bisa saja terjadi bilamana orang tidak memahami sejarah. Bahwa dengan menyatukan semua lini kekuatan, apapun agamanya, baik tua ataupun muda, bangsa ini bisa merdeka. Cita-cita negara agama adalah sesuatu yang sangat muluk dan sangat susah di terima. Agama tidak untuk dijadikan mesin kekuasaan, tapi pengembangan nilai-nilai agama didalam diri yang sangat diperlukan. Memang penduduk Indonesia mayoritas Islam, tapi untuk memaksakan negara Islam, jauh panggang daripada api. Karena Islam tidak membutuhkan negara, tapi Islam membutuhkan kesucian hati. Dan juga karena ditengah mayoritas Islam tersebut, ada minoritas lainnya yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Hak untuk memperoleh hidup, berpendidikan maupun memeluk suatu agama tertentu seperti lainnya. Jadi kalaulah kita ingat sejarah, maka bukan satu agama saja yang membangun bangsa ini. Apalagi isu agama hanya tameng untuk menggapai kekuasaan, bukan untuk mensejahterakan. Kiranya baik mengingat guman bung Karno bahwa bangsa ini harus di bangun dengan jiwa yang nasionalis. Dan agama cukuplah ada di dalam diri masing-masing sebagai pengontrol perilakunya. Apalagi di tengah pluralisme kehidupan rakyatnya yang bhineka. Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu dan berbagai aliran kepercayaan lainnya. Negara agama seperti yang di cita-citakan fundamentalis adalah hil yang mustahal. Indonesia sudah tepat dengan mendasarkan setiap permasalahan dengan aturan hukum, meskipun belum terlaksana total (karena bukan Pancasilanya yang bermasalah, tapi instrumen yang menjalankannya yang mungkin belum paham dengan Pancasila). Hanya dengan mendasar pada satu ketetapan hukum, maka bisa di rangkul semua kalangan di seantero Indonesia yang beragam agama dan kepercayaannya.

Pancasila; Jalan Yang Masih Tersendat

1 Oktober sebagaimana yang selalu kita peringati adalah hari Kesaktian Pancasila. Meskipun sejarah yang mengitarinya masih buram, tetapi hari ini menguatkan kembali kepada kita bahwa hanya ada satu ideologi di negeri ini, bukan Komunis, bukan Agamais atau lainnya, tetapi Pancasila. Seiring perjalanannya, memang Pancasila belum mantap menatap kedepan. Pancasila masih mantap sebatas perumusannya. Aplikasi dan implikasinya Pancasila masih tersimpang siur. Pancasila seharusnya menjadi obat bagi kemelut di negeri ini. Bilamana ada sesuatu yang mengkhawatirkan, maka pancasila lah yang akan meluruskannya. Makanya Pancasila dianggap sakti. Cuma permasalahannya sekarang, kesaktian itu mulai luntur seiring subur menjamurnya praktik korupsi, pertentangan ideologi, tawuran antar etnis, suku, pemuda, agama dan lain-lainnya. Sesungguhnya praktik ini tidaklah sejalan dengan jiwa dan semangat Pancasila. Adanya tindakan mengemukkan diri dan kelompok sendiri dengan menafikkan kemiskinan yang masih melekat pada masyarakat adalah sebentuk penghianatan dan penghinaan terhadap konsensi Pancasila yang telah jauh dirumuskan pendahulu.
Banyak kalangan menilai bahwa terjadinya praktik menyimpang itu disebabkan karena lunturnya nilai-nilai Pancasila. Ibarat obat, Pancasila menjadi kadaluarsa di tengah panasnya pertentangan dan permainan kepentingan antar elit. Bukan rahasia umum lagi bahwa terjadinya pertikaian-pertikaian juga di sebabkan sebagai pengalihan isu. Misalnya ketika elit di jakarta banyak yang tersandung masalah, maka lumrah kalau terjadi letusan pertikaian di tempat lainnya. Jadi sepertinya kalau kita mengatakan bahwa nilai-nilai pancasila itu semakin luntur, yang menjadi pertanyaannya adalah apakah mungkin sesuatu itu luntur secara sendiri ataukah memang sengaja ada yang ingin melunturkannya??
Bahkan dari cara pengalihan isu ini, paradigma masyarakatpun berubah menjadi sebentuk unjuk kekuatan. Kalau kemarin masyarakat diajarkan tawur dengan cara di provokasi, sekarang masyarakat (terutama yang merasa paling kuat) keranjingan tawur meskipun tanpa di provokasi. Mereka membentuk sendiri kelompok-kelompok tertentu sehingga pertikaian bisa meledak kapan dan dimana saja. Belum lama ini terjadi pertikaian di Tarakan Kalimantan Timur. Dan baru saja terjadi pertikaian pemuda di depan pengadilan negeri Jakarta. Pertikaian seperti ini akan selalu terjadi kalau negara tidak cepat tanggap. Tidak hanya dengan di tangkapi para perusuhnya, tetapi dengan menanamkan ulang nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila tersebut. Dan dalam menindak perusuh, dengan bersandar pada kekuatan Pancasila, sebaiknya pula negara tidak tangung-tanggung untuk menindak dan menertibkannya. Karena tidak hanya kelompok-kelompok pemuda yang sering bertikai, isu agamapun menjadi sangat strategis sekali bagi segelintir kalangan untuk di pertikaikan. Misalnya kekerasan yang dilakukan dengan embel-embel ormas suatu agama tertentu. Upaya untuk menertibkannya memang sudah di ujung klimak, tapi sepertinya selalu tersendat untuk di eksekusi. Kenapa tersendat, pastinya pemerintah dan negara masih ragu. Keraguan karena sejatinya ada campur tangan pemerintah yang sengaja melindunginya dan bisa di pergunakan untuk kepentingan tertentu. Ataukah mungkin saja ormas tersebut pertamakali di bentuk oleh tentara atau partai politik atau mungkin penguasa. Kalau teroris sekaliber al qaedah dan jamaah al islamiah bisa dikebiri, kenapa ormas-ormas yang telah dengan jelas menabrak jiwa Pancasila masih bisa berdiri eksis bahkan dengan angkuhnya.
Belum lagi bicara masalah kedaulatan yang selalu di lecehkan oleh tetangga serumpun. Mungkin Bung Karno sangat keras sehingga beliau memprovokasi dan mengajak konfrontasi negara-negara di sekitar seperti Singapura, Malaya, Sabah, Serawak, dan Brunei untuk melawan dan membubarkan proyek negara boneka Malaysia. Tapi sekarang sangat jauh berbeda perbandingannya. Bahkan di hina sekalipun, bangsa ini berbalik meminta maaf. Lihat saja hasil perundingan terkait perseteruan penangkapan petugas kelautan Indonesia yang dilakukan Malaysia di perairan Indonesia. Hasil perundingannya sangat menyesalkan rakyat, yang kesannya sangat lembek dan tidak ada ketegasan. Sepertinya diplomasi kotoran malah lebih berhasil membuat Malaysia berang dibanding diplomasi elit yang membuat Malaysia hanya senyum-senyum saja. Kenapa Indonesia se lembek itu? Apalagi mengingat perseteruan Indonesia-Malaysia ini telah berlangsung lama. Dan faktanya Indonesia selalu kalah dalam diplomasi. Bukti konkrit adalah hilangnya Sipadan dan Ligitan. Tidak hanya itu, Malaysia berani mengklaim seni-budaya bangsa ini seperti reog, lagu rasa sayange dan batik untuk di jadikan promosi negaranya. Indonesia hanya tenang-tenang saja, mengingat masih ada 2 juta tenaga kerja yang mencari rezeki di negeri jiran tersebut (menjadi babu dengan embel-embel pahlawan devisa).
Seharusnya dari beragam kejadian ini, memang kita sepakat bahwa hanya nilai-nilai Pancasila yang dapat mengatasinya. Dari pertentangan ideologi sampai kedaulatan, Pancasila mujarab untuk di praktek kan ulang. Pancasila adalah ksatria, simbol keberanian, ketegasan dan pintarnya negeri ini. Bak garuda, Pancasila adalah penjaga seluruh tatanan kehidupan negeri ini. Tapi untuk mempraktekkannya, karena nilai-nilai itu mulai luntur, maka negara dan pemerintah harus menguatkan lini pendidikan untuk memamkannya kembali pada generasi berikutnya. Bangsa ini terletak pada generasi berikutnya, bukan generasi sebelumnya. Tidak ada lagi yang diharapkan dari Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, Tan Malaka maupun lainnya, kecuali gagasan dan ide-idenya tentang bangsa yang akan datang. Muara dari segala permasalahan kita adalah kesadaran. Kesadaran untuk hidup harmonis, damai dan sejahtera. Saya kira itu sejalan dengan semua agama yang ada. Artinya tidak ada pertentangan antara agama dan pancasila.
Sesungguhnya musuh bangsa ini bukanlah pada gertakan ideologi atau paham, kelompok ataupun pertentangan antar bangsa. Sesungguhnya musuh utama kita dari dulu sampai sekarang adalah kebodohan dan kemiskinan. Adalah sesuatu yang miskin kalau kita bodoh, pun begitu sebaliknya. Dan bangsa yang bodoh tidak akan pernah berkembang dan maju. Selamanya akan selalu tertindas. Seperti bangsa ini, terlepas dari penindasan bangsa asing, tapi berbalik menindas bangsanya sendiri. Kalau kita bisa melepaskan kebodohan dan kemiskinan ini, niscaya, bangsa ini akan menatap masa depannya yang gemilang. Karena semua yang tertanam di negeri ini, alamnya maupun manusianya, sama-sama menjanjikan. Dan untuk mewujudkan itu, cukup sudah negara dan pemerintah beserta instrumennya membangun kewibawaan. Sekarang saatnya membangun karakter bangsa yang benar-benar sesuai dengan cita-cita dan harapan. Cukuplah membangun politik pencitraan, tapi bangunlah pencitraan politik yang nasionalis, manusiawi dan meletakkan permasalahan rakyat di atas segala-galanya (PANCASILAIS).

Melki Hartomi AS
Anggota Persatuan Pemuda Tamansiswa
Continue Reading...

Featured

 

BIDADARI KECILKU

BIDADARI KECILKU

EKSPRESI

EKSPRESI

Once Time Ago

Once Time Ago

Aspiratif CyberMedia Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template